Sore tepatnya tanggal 28 Februrai 2009, langit kota malang mendung dan akan turun hujan. Tetapi tidak membuat saya surut untuk pergi ke RBC (rumah baca cerdas) karena ada diskusi mingguan. Baru pertama kali ini saya datang sebab minggu-minggu sebelumnya ada kesibukan. Kebetulan pada sore itu yang menjadi pembicara adalah penggagas RBC (rumah baca cerdas) yakni Prof. Dr. Malik Fajar mantan mentri pendidikan.
Sesampai di RBC, teryata yang datang cukup banyak kurang lebih 50 orang yang berasal dari dosen-dosen perguruan Tinggi di Malang, Aktivis Mahasiwa, Aktivis Kepemudan, NGO, Maupun dari Partai politik.
Suasana santai dan khitmad dengan suguhan sederhana: kopi, teh, molen, dan seejenisnya. Pertama yang disampaikan oleh Malik Fajar adalah persolan dari mana perubahan bangsa.Bahwa perubahan bangsa dimulai dari hal-hal yang terkecil. Seperti forum ini. Lalu Dia menceritakan bagaimana pengalaman ketika dulu menghadiri forum-forum kecil dan berdiskusi tentang kebangsaan dan memberi solusi dari permasalahan yang sedang menghinggapi bangsa. Karena dari forum kecil-kecilan pembahasan kan menjadi focus dan terarah. Dan juga kita tidak boleh melupakan sejaran artinya perjalanan bangsa harus diketahui . Dulu bagaimana dan sekarang sampai dimana.
Tetapi bukan “mecagarkan” hal yang dulu lalu mengurungnya dan mengulang-ulang tetapi meneruskan sampai dimana lalu kekurangannya apa saja dari perjalanan bangsa ini. Hal tersebutlah yang nantinya akan membuat bangsa ini menjadi maju.
Kedua adalah persoalan polotik bangsa kita yang mengalami kemunduruan dibandingkan yang dulu dimana para politisi telah kehilangan modal sosial tetapi mengedepankan modal ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat kurang percayadirinya calon-calon legeslatif untuk membuat perubahan dan ini dapat dibuktikkan dengan terpangpangnya wajah para calon legeslatif dengan tokoh-tokoh nasional yang telah terkenal atau kyai-kyai yang punya nama.
Selain itu para elit politik telah menghancurkan kepercayaan masyarakat dengan memainkan politik uang. Hal tersebut memanjakan masyarakat dan akan tidak rasional untuk memilih, maka siapa memiliki uang banyak yang akan menang. Tetapi bukan membuka kesadaran masyarakat dengan program-program pemberdayaan masyarakat yang nantinya akan meberdayakan masyarakat.
Dan juga pendidikan politik masyarakat yang jujur bukan membuat garis agar memilih dirinya karena menganggap dirinya atau partai politiknya paling baik. Padahal kerja kenegaraan tidak bisa dilakukan sendiri tetapi dengan orang lain yang memiliki kompetensi yang berbeda-beda atau partai politik lain yang memiliki program dengan sasaran berbeda.
Selain itu ketidak siapan masyarakat sekarang dengan teknis pemilihan mencontren khususnya pemilih yang berada pada masyrakat yang paling bawah atau orang-orang yang sudah manula. Hal tersebut dapat dilihat dari simulasi-simulasi yang dilakukan di masysrakat memiliki kegagalan kurang lebih 40 %.
Ketiga adalah masalah pendidikan dimana pendidikan di bangsa ini sudah berubah visi. Yang seharusnya adalah karakteristik building tetapi sekarang menjadi berorientasi pada uang. Dalam hal ini di contohkan dengan adanya sertifkasi dan para guru atau pendidik berbondong-bondong memburu sertifikat dengan cara instant. Buka dengan cara melalui proses yang benar-benar layak mendapat sertifikat. Dan juga Malik fajar menegaskan bahwa self sertifikasi itu lebih penting yang mengukur diri sendiri dan terus mengupgreat diri supaya dapat memberikan yang terbaik bagi generasi penerus bangsa.
Dan juga mencontohkan sekola juga seperti investasi modal ekonomi bukan investasi modal sosial dalam artian siapa yang sekolahnya faforit dan biayanya mahal akan memiliki kebanggaan. Selain itu di contohkan juga fakultas kedokteran maka nanti ketika menjadi dokter orang berobat harus juga dengan biaya mahal.
Demikian yang dapat saya rangkum dari hasil diskusi di RBC dengan sedikit mengurangi atau sedikit menambah pembahasan dengan bahasa saya sendiri dari hasil penagkapan telinga saya. Sebenarnya ada beberapa penanya tetapi tidak saya sebutkan atau mungkin sudah termaktub dalam pembahasan di atas.
Malang, 28 Februari 2009
Terimakasih informasinya. Bila ada kesempatan silahkan mampir ke "Sosiologi Dakwah" di http://sosiologidakwah.blogspot.com
BalasHapusKalau mau ngikuti juga boleh.