Minggu, 01 Maret 2009

RBC DAN PERSOALAN BANGSA

Sore tepatnya tanggal 28 Februrai 2009, langit kota malang mendung dan akan turun hujan. Tetapi tidak membuat saya surut untuk pergi ke RBC (rumah baca cerdas) karena ada diskusi mingguan. Baru pertama kali ini saya datang sebab minggu-minggu sebelumnya ada kesibukan. Kebetulan pada sore itu yang menjadi pembicara adalah penggagas RBC (rumah baca cerdas) yakni Prof. Dr. Malik Fajar mantan mentri pendidikan.
Sesampai di RBC, teryata yang datang cukup banyak kurang lebih 50 orang yang berasal dari dosen-dosen perguruan Tinggi di Malang, Aktivis Mahasiwa, Aktivis Kepemudan, NGO, Maupun dari Partai politik.
Suasana santai dan khitmad dengan suguhan sederhana: kopi, teh, molen, dan seejenisnya. Pertama yang disampaikan oleh Malik Fajar adalah persolan dari mana perubahan bangsa.Bahwa perubahan bangsa dimulai dari hal-hal yang terkecil. Seperti forum ini. Lalu Dia menceritakan bagaimana pengalaman ketika dulu menghadiri forum-forum kecil dan berdiskusi tentang kebangsaan dan memberi solusi dari permasalahan yang sedang menghinggapi bangsa. Karena dari forum kecil-kecilan pembahasan kan menjadi focus dan terarah. Dan juga kita tidak boleh melupakan sejaran artinya perjalanan bangsa harus diketahui . Dulu bagaimana dan sekarang sampai dimana.
Tetapi bukan “mecagarkan” hal yang dulu lalu mengurungnya dan mengulang-ulang tetapi meneruskan sampai dimana lalu kekurangannya apa saja dari perjalanan bangsa ini. Hal tersebutlah yang nantinya akan membuat bangsa ini menjadi maju.
Kedua adalah persoalan polotik bangsa kita yang mengalami kemunduruan dibandingkan yang dulu dimana para politisi telah kehilangan modal sosial tetapi mengedepankan modal ekonomi. Hal tersebut dapat dilihat kurang percayadirinya calon-calon legeslatif untuk membuat perubahan dan ini dapat dibuktikkan dengan terpangpangnya wajah para calon legeslatif dengan tokoh-tokoh nasional yang telah terkenal atau kyai-kyai yang punya nama.
Selain itu para elit politik telah menghancurkan kepercayaan masyarakat dengan memainkan politik uang. Hal tersebut memanjakan masyarakat dan akan tidak rasional untuk memilih, maka siapa memiliki uang banyak yang akan menang. Tetapi bukan membuka kesadaran masyarakat dengan program-program pemberdayaan masyarakat yang nantinya akan meberdayakan masyarakat.
Dan juga pendidikan politik masyarakat yang jujur bukan membuat garis agar memilih dirinya karena menganggap dirinya atau partai politiknya paling baik. Padahal kerja kenegaraan tidak bisa dilakukan sendiri tetapi dengan orang lain yang memiliki kompetensi yang berbeda-beda atau partai politik lain yang memiliki program dengan sasaran berbeda.
Selain itu ketidak siapan masyarakat sekarang dengan teknis pemilihan mencontren khususnya pemilih yang berada pada masyrakat yang paling bawah atau orang-orang yang sudah manula. Hal tersebut dapat dilihat dari simulasi-simulasi yang dilakukan di masysrakat memiliki kegagalan kurang lebih 40 %.
Ketiga adalah masalah pendidikan dimana pendidikan di bangsa ini sudah berubah visi. Yang seharusnya adalah karakteristik building tetapi sekarang menjadi berorientasi pada uang. Dalam hal ini di contohkan dengan adanya sertifkasi dan para guru atau pendidik berbondong-bondong memburu sertifikat dengan cara instant. Buka dengan cara melalui proses yang benar-benar layak mendapat sertifikat. Dan juga Malik fajar menegaskan bahwa self sertifikasi itu lebih penting yang mengukur diri sendiri dan terus mengupgreat diri supaya dapat memberikan yang terbaik bagi generasi penerus bangsa.
Dan juga mencontohkan sekola juga seperti investasi modal ekonomi bukan investasi modal sosial dalam artian siapa yang sekolahnya faforit dan biayanya mahal akan memiliki kebanggaan. Selain itu di contohkan juga fakultas kedokteran maka nanti ketika menjadi dokter orang berobat harus juga dengan biaya mahal.
Demikian yang dapat saya rangkum dari hasil diskusi di RBC dengan sedikit mengurangi atau sedikit menambah pembahasan dengan bahasa saya sendiri dari hasil penagkapan telinga saya. Sebenarnya ada beberapa penanya tetapi tidak saya sebutkan atau mungkin sudah termaktub dalam pembahasan di atas.

Malang, 28 Februari 2009

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Tak kenal maka tak sayang, kalimat tersebut memang bukan sekedar manis di bibir. Hal ini saya alami: ketika suatu hari, saya akan membuat surat keterangan catatan kepolisian (SKCK). Bermula dari Kepala Desa untuk meminta surat pengantar. Ketika surat keterangan dari desa sudah saya dapatkan, perjalanan saya lanjutkan ke kantor kecamatan. sesampai di kantor kecamatan, ada beberapa orang yang memiliki kepentingan sama dengan saya.
Satu, dua dan seterusnya mulai meninggalkan kantor kecamatan karena sudah jadi apa yang dia harapkan. Tetapi tidak hanya meninggalkan tempat sambil membawa kertas yang sudah dibubuhi tanda tangan serta stempel tanda sah, mereka juga meninggalkan uang. kalau saya lihat uang yang ditinggal dan masuk kekantong petugas jaga,tidak seberapa banyak. Beberapa lembar uang ribuan, mungkin sepuluh ribu kembali. Kalau dilihat dari raut wajahnya mereka sebenarnya tak mau meninggalkan uang tersebut, dikarenakan sudah terbiasa dan apabila tidak begitu maka petugas akan menegur.
Tiba giliran saya, kertas yang saya dapatkan dari Kepala Desa, saya sodorkan ke petugas untuk dibubuhi tanda tangan dan stempel. Hal tersebur sama dengan apa yang dilakukan orang-orang yang mendahului saya. Tetapi ada satu perbedaan yakni ketika tangan saya merogoh saku untuk mengeluarkan uang, tiba-tiba muncul kalimat dari petugas "bawah saja dan langsung ke Kantor Polisi".
Dalam hatiku bertanya-tanta "kenapa ya saya kok tidak dimintai uang". Unek-unek dalam hati saya bawa sampai Kantor Polisi Sektor kecamatan, hal ini pun sama untuk meminta keterangan bahwa saya tidak pernah terlibat kriminal. Sesampai di Kantor polisi, ada petugas dan langsung nerocos (bicara) "ada keperluan apa mas". Dengan sedikit agak bimbang, karena takut wajah penjaga seram saya menjawab "mau ngurus surat SKCK pak". Dengan cepat seperti anjing penjaga rumah mengonggong ketika ada orang asing datang "Langsung ke bagian kriminal mas". Kaki saya melangkah ke bagian kriminal dan menyodorkan surat yang sudah dibubuhi tanda tangan Pak Camat dan juga stempel tandah sah "ini Bu, saya mau minta SKCK". Tanpa basa-basi langsung diambil sambil memberi teguran "jangan pake' sandal jepit mas ya". Saya tidak peduli, lansung saya tempatkan tubuhku yang agak kecape'an di kursi tunggu.
Tiba-tiba ada dua orang cewek dan sepertinya keperluannya sama seperti saya. Mata saya tak bisa diam ketika ada cewek apalagi cantik. Tetapi ada yang berbeda dalam penyambutan yang dilakukan oleh petugas penjaga. Tampak senyum dan ramah bukan seperti anjing penjaga lagi. Kedua perempuan itupun masuk dan memasukkan berkas sama seperti saya ke petugas dalam ruang cacatan kriminal. Hampir setengah jam saya menunggu belum juga selesai. Rasa bosan agak terhibur sebab ada cewek cantik dua yang bisa dilihat tapi sayangnya tidak ada kesempatan untuk berkenalan sebab petugas yang menyambutnya masuk tadi mengajaknya berbincang-bincang.
Tak lama kemudian ada tiga orang masuk. Satu cewek, dua laki-laki, tanpa basa-basi langsung masuk keruangan yang sama dengan saya masuki. Lalu yang dua keluar dan yang dua duduk di samping saya. Pertanyaan muncul dari mulut saya "ngurus apa mas", jawabnya sedikit lambat "ngurus SKCK mas". Beberapa menit kemudian yang masuk kedalam ruangan catatan kriminal keluar dengan senyum-senyum kecil. Di ajaknya temannya "ayo! pulang sudah selesai. saya menjadi marah dalam hati mengerutu "saya yang datang duluan tidak diselesaikan lebih awal". Lalu dipanggilnya kedua perempuan yang sedang asik tertawa sama petugas yang jaga di depan. saya mengintip, mereka mengeluarkan uang untuk petugas yang ada di dalam ruangan kira-kira ribuan yang dihitungnya lebih awal jumlahnya sepuluh sebelum dikasihkan petugas. Lalu nama saya dipanggil, perasaan jenuh hilang senang sudah selesai. saya pun sama harus menyerahkan uang karena dimintak oleh petugas yang jaga.
Sambil perjalanan pulang saya teringat kejadian di Kantor Kecamatan dan saya hubungkan dengan kejadiaan di Kantor Polisi tadi. "kenapa ya kok bisa begitu" saya mencari jawabannya. Tiba-tiba ada kuncinya biar cepat dalam mendapatkan pelayanan petugas dan tidak bayar adalah harus kenal. Di kantor kecamatan rata-rata kenal saya semua, sebab rumah saya dekat dengan kantor kecamatan dan rata-rata kalau makan siang warung Ibu saya. Kalau sikap penjaga ke saya dan kedua perempuan tadi, ya wajarlah saya laki-laki petugasnya laki-laki dan mungkin biar kelihatan kalau gagah dan menakutkan, kalau sikap ke perempuan dengan senyum, ya sapa tau habis itu bisa di ajak makan bareng entah dimana. Sedangakan cepatnya selesai ketiga orang tersebut mungkin seperti saya diperlakukan dikacamatan.
Catatan: Kalau mau berurusan dengan petugas pemerintah harus kenalan dulu dan baik-baik pada mereka. Bagi kalian yang cowok kalau mau berurusan dengan polisi ajak ade' atau kaka' perempuan yang cantik kalau nggak punya teman juga boleh agar tidak bertemu anjing penjaga rumah.