Selasa, 19 Juli 2011

MENCARI MAKNA HIDUP DIBALIK PENDERITAAN CINTA



Judul Buku : Derita Cinta Tak Terbalas
Pengarang  : Iriana Stephanie
Penerbit     : Jalasutra, Yogyakarta dan Bandung
Tahun terbit : 2005 Akhir
Tebal Halaman : xxiv + 164 Hlm;15x21cm


Cinta tidak pernah lepas dari kehidupan manusia dan selalu asik untuk dibicarakan dan dijalani. Kerena cinta adalah fitra manusia yang perlu diluapkan.  Sehingga banyak sekali cerita-ceritatentang cinta yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dan setiap pengalaman manusia satu dan yang lainya berbeda dalam mengartikan cinta. Hal tersebut terjadi karena manusia memiliki pengalaman batin yang berbeda akan makna  cinta.


Ada yang bilang bahwa cinta itu indah dalam  hubungan antara laki-laki dan perempuan di karenakan apa yang mereka harapkan terpenuhi lain lagi dengan seorang pecinta yangmengartikan bahwa cinta adalah penderitaan hal ini disebabkan apa yang diharapkan dari pecinta tidak terpenuhi. Dalam buku ini yang akan dibahas bukanlah pengalaman keindahan akan cintaakan tetapi penderitan bagi para pecinta dan bagaimana bisa keluar dari deritanya.Sehingga orang yang mengalami penderitaan terkadang terperosok dalam lubang hitam yang dalam, ketika maknahidup tidak didapatkan dari penderitaan yang dialaminya.


Apabila ini terjadi dan tanpa soslusi yang tepat maka penyiksaan diri yang akan dilakukan semisal bisa saja mengkonsumsi narkoba bahkan bunuh diri.Hal ini dikuatkan lagi oleh merekayang menderita dan tidak berusaha mencari jalan keluar bahwa apa yang rejadi pada dirinya adalah nasib yang tidak bepihak padanya dan akhirnya pasrah. Kepasrahan inilah yang membuat parapecinta yang merasakan derita  semakin menderita ( Jasper, hal 4 ).


Jasper menklasifikasikan dalam mengatasi nasib ada tiga, pertama pasrah ketika sesuatu terjadi pada sesorang tidak ada keingginan untuk keluar dan menyelesaikan. Kedua bertahanpada kondisis ini yang hanya bisa dilakukan oleh penderita adalah bertahan terhadap kondisi dan ketiga mengatasi, dimana solusi pasti ada dan orang-orang inilah yang nantinya bisa menemukanmakna hidup.


Dengan pendekatan psikologi humanistik logoterapi, eksistesi dan fenomenologi berdasarkan keahlihan Stephani  seorang psikiater yang mencoba menjawab permasalan yang dihadapipara pecinta yang mengalami derita. Sehingga bisa terbebaskan dari derita yang mengganggu mental, fisik dan jiwa para  pecinta yang mengalami derita.


Pertama dibahas adalah mendifinisikan proses pembentukan cinta. Cinta itu memberi dan bukan menerima ( Erich Fromm, hal 23 ). Dalam hal ini cinta adalah kekuatan aktif dalam dirimanusia yang menyatukan dengan manusia lain sehingga kemungkinan untuk mengurangi perasaan keterasingan dan kesepian seseorang. Cinta  dikatakan aktif didalamnya membentuk dengan sendirinya, dan ada empat factor pembentuknya pertama; perhatian artinya memberikan perhatian aktif terhadap kehidupan danperkembangan orang yang kita cintai, kedua;  tanggung jawab diartikan suatu tindakan yang dilakukan secara sukarela berupa respon terhadap kebutuhan yang diekpresikan ataupun tidak dari orangyang kita cintai, ketiga;  sikap menghormati yaitu kemampauan melihat orang yang kita cintai sebagaimana adanya, menyadari dan meneriman keberadaan dirinya yang unik, terakhir: pengetahuaanadalah seberapa kita mengetahui tentang orang yang kita cintai yang diperoleh dengan mentarnsedensikan perhatiaan kita dari diri sendiri kepada orang yang kita cintai dan melihat dari sudutpandangnya.  
          
Dari kempat factor itulah cinta dibentuk yang nantinya bisa didapatkan cinta  seutuhnya. Sehingga penderitaan tidak terjadi pada pecinta karena sudah memenuhi factor pembentukan cinta. Danitulah hakikat cinta sehingga tidak memandang selalu subyektif dan berfikir berlebihan tentang cinta.


Kedua adalah mencari makna hidup dalam penderitaan. Perlu diketahuai bahwa hidup tidak akan bisa lepas dari apa yang dinamakan penderitaan. Akan tetapi yang terpenting adalah mencari makna hidupnya. Dimana kehidupan memiliki tanggung jawab yang diproyeksikan dan tanggung jawab dari diri sendiri.
            
Tanggung jawab yang diprosyeksikan ini dari apa yang memproyeksikannya dalam hidupnya nanti, diantaranya proyeksi yang diajarkan agama. Mengajarkan akan kehidupan kepada umatnya dan membarikan tujuan hidup nantinya akan mengarah kemana. Tanggung jawab dari diri sendiri inilah yang ditekankan pada pembahansan kali ini dimana tangggung jawab diri sendiri berasal dari kehendak bebas menusia. Yang mengisaratkan eksistensi manusia untuk bisa menenttukan pilihan pilihan yang dihadapi. Sehingga keterjebakan dalam penderitaan bisa diatasi.
            
Adapun prinsip perubahan sikap yang harus dilakukan adalah pertama mengabil jarak dari gejala-gejala yang menjadi penyebab rasa putus asa dan derita. Kedua mengubah sikap-sikap yang tidak menyehatkan. Ketiga menghilangkan perasaan putus asa dan negatif terhadap apa yang dialaminya dan yang terakhir mencari makna.
            
Dan yang terakhir inilah yang ditekankan untuk menggali makna hidup. Dan juga perlu disadari bahwa makna hidup dapat dicari dari perjumpaan dengan seseorang walaupaun disitu terkadang terdapat penderitaan yang bisa diambil maknanya. Sehingga hidup kita selau bermakna dan terus meningkatkan pendewasaan dalam bersikap dan hidaup bersosial.
            
Maka dapat disimpulkan bahwa buku ini sangat menarik sekali untuk dibaca sebagai pengetahuan akan pergumulan permasalahan kehidupan dan sebagai bahan refleksi bahwa penderitaan tidak selamanya tidak dapat dipecahkan dan cinta itu indah. Apa lagi diakhir lengkap dengan contoh dalam bentuk cerita nyata yang dihasilkan penulis dari investigasi yang dihadapi beberapa orang yang dikisahkan akan pengalaman penderitaan dalam percintaan dan bagaimana mendapatkan jalan keluar dari penderitaan tersebut.


Bahwa buku tipis ini sanggat membantu bagi para pecinta yang mengalami penderitaan dengan tanpa bantuan psikiater dengan menbaca buku ini tahap demi tahap sehingga dapat diterapkan untuk menerapi diri sendiri. Bagi pembaca yang lain untuk menambah pengetahuan didisiplin psikologi.

Selasa, 12 Juli 2011

Menunggu Sambil Membaca Sajak

Keheningan menghampiriku di perjamuan ruang tunggu. Aku terus berdiri dengan harap, kau datang membawa sepucuk senyum yang hilang dariku. Sebab lelah memandang masa lalu, tak juga mau pergi. Kenangan-kenangan pahit menyelinap dalam hari-hariku.
Dalam ruang tunggumu aku ibarat petani yang menanti musim panen tiba. Menunggu sambil memupuk bibit-bibit dan tunas-tunas muda yang ditanam di sawah-sawah, ladang-ladang atau perkebunan. Berharap esok ketika panen, hasil dapat melimpah ruah.
Menunggu kadang kala ketika menjumpai yang ditunggu harus melewati halang dan rintangan. Hal itu dialamai petani bila banjir datang, bila musim wereng dan tak dapat diusir, bila kebutuhan air kurang maka kegagalan panen akan menimpah dan pastinya petani dirundung susah.
Tetapi menunggu bagiku adalah keindahan. Karena di dalamnya aku bertemu dengan keresahan, kadang kala keputus asaan yang harus cepat aku hapus sebab aku tak mau putus asa. Jika waktu yang ditentukan usai maka akan menjadi kekesalan.
Yang aku tunggu ini adalah menunggu cinta yang aku tanam dalam diri gadis bermata lentik. Waktu pun tak ada batas kapan ia membawa bunga-bunga dari hatinya buatku.Dalam kondisi yang begini aku suka membaca sajak:
Ikutlah aku, aku berkata, dan tak seorang pun tahu
kemana, atau bagaimana kesakitanku berdeyutan,
tak ada anyelir atau kidung para pendayung untukku,
hanya secercah luka yang telah dibuka oleh cinta.
Aku berkata lagi: Ikutlah aku, seakan aku sedang sekarat,
dan tak seorang pun memandang rembulan yang berdarah di mulutku
atau darah yang bangkit dari kesunyian.
O kekasih, kini kita bisa melupakan bintang yang punya begitu banyak duri!
Karena itulah, saat aku mendengar suaramu berulang
Datanglah padaku, seolah engkau membiaskan lepas
lara, cinta, kegeraman anggur yang tersumbat tutup botolnya
air mancur panas turah dari kedalamannya dan menyembur:
di mulutku aku rasakan saripati api kembali,
dari darah dan anyelir, dari darah yang mendidih.
(Soneta VII,Ciuman Hujan, Pablo Neruda penyulih Tia Setiadi, penerbit Madah 2009 Yogyakarta)
Sajak di atas pas dengan aku yang sedang menunggu dan tak kunjung datang. Rasa kesakitan yang bergelora dalam keheningan karena berkali-kali mengajak tak juga terpenuhi harapan. Sekali terpenuh meletuplah keresahan akan gelisah harapan. Ah, membaca soneta Neruda di atas hatiku bergelora berharap cepat dapat menemui jawab atas tanya cinta.
Aku suka sekali Neruda, dengan bermainya luka dan dara dalam tubuh dibedah dijumputi letak letak sarang-sarang resah. Rembulan pun dijadikan tidak seindah orang kebanyakan pandang mata sebab harus dimasukkan ke mulut (apakah ini perasahaan orang jatuh cinta bisa jadi apa saja dilakukan untuk mempertahankan cintanya) begitupun bintang yang punya duri, ah bayangan-bayangan dalam sajak Neruda ini menjadikan perasaanku lebih bergelora menanti cinta dari si mata lentik.